SOLO - Penggusuran dengan ganti rugi rendah, membuat warga di sekitar rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Kerkop resah. Mereka berharap ada relokasi yang dinilai lebih menyejahterakan.
"Bagaimana tidak jadi pikiran kami. Kalau hanya diganti rugi dan nilainya tidak seberapa kami akan tinggal dimana," keluh Kalipan (65), salah satu warga Kerkop yang tergusur proyek rusunawa di samping rumahnya, Rabu (29/2/2012).
Kalipan mengungkapkan, dirinya tinggal di lahan yang dulunya ditumbuhi ilalang sudah 30 tahun lebih. Bersama istrinya, mereka mendirikan rumah yang dulu kawasan pemakaman Belanda.
Dari penghasilannya sebagai pencari barang rongsokan, Kalipan mengumpulkan sedikit demi sedikit uangnya untuk membangun rumah permanen. Di rumah berukuran 8 x 10 meter persegi itu Kalipan tinggal dengan keluarganya.
"Dalam sosialisasi beberapa waktu lalu, rumah saya ini hanya dinilai Rp 3 juta. Apa ada rumah seharga itu," imbuhnya.
Kalipan menilai solusi yang diberikan ke sedikitnya 41 kepala keluarga
(KK) yang terkena penggusuran Rusunawa Kerkop bukan jalan keluar. Pasalnya, mereka mendapat pilihan yang malah membebani. Khususnya terkait pemenuhan kebutuhan tempat tinggal.
Menurut Kalipan, warga yang kini rumahnya ada di sekeliling Rusunawa Kerkop diprioritaskan menghuni rusunawa tengah kota itu. Hanya, syarat penghasilan minimal Rp750 ribu per bulan membebaninya.
"Sebagai tukang rongsok, apa saya bisa? Lagipula kami juga hanya menyewa perbulan, tetap tidak punya rumah sendiri," katanya.
Dirinya pun berharap pemerintah kota (pemkot) merelokasi mereka. Kalipan merasa iri dengan warga bantaran Sungai Bengawan Solo yang direlokasi ke wilayah lain. Padahal mereka sama-sama menempati lahan milik negara.
"Bukankah kami di sini tidak mengganggu rusunawa? Kenapa tidak dipindah saja, tapi masih dapat tempat tinggal?" tanya Kalipan.
Kini, meski belum ada deadline dan keputusan jelas terkait nasib tempat tinggal keluarganya, penggusuran yang akan dilakukan pemkot membebani pikirannya. Dirinya pun memilih membiarkan atap rumahnya bocor lantaran khawatir perbaikan yang dilakukan sia-sia.
"Nanti tiwas didandani (sudah dibetulkan) ternyata dipugar, malah sia-sia. Kami berharap segera ada kejelasan dan jawaban permintaan relokasi kami," harapnya.