Getting time...

OKEJOGJA » 

Pesta Imlek Berlalu, Bisnis Kue Keranjang Tetap Eksis

Genta Wahyu - Okezone
Rabu, 7 Maret 2012 12:19 wib
Ilustrasi kue kranjang (Foto: Koran SI)
Ilustrasi kue kranjang (Foto: Koran SI)

SOLO - Bisnis kue keranjang ternyata tidak hanya membludak menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

Seperti yang terlihat di lokasi pembuatan kue keranjang Dua Naga Mas milik Tan Thiam Gie di Kampung Balong RT 05 RW 08, Solo, Jawa Tengah, tetap kewalahan melayani pemesanan kue ranjang.

Kesibukan terlihat di hampir semua bagian rumah yang khusus untuk memproses kue keranjang. Di bagian depan, sejumlah pekerja terlihat menata kardus-kardus berisi kue keranjang yang siap diantar atau diambil pemesan.

Sementara di dalam rumah, pekerja lain sibuk melabeli setiap bungkus kue keranjang dengan kertas bulat merah. Label ini yang menunjukkan identitas produsen kue keranjang.

"Biasannya,kalau hari biasa,kue ranjang ini dipesan untuk ibadah di kuil. Selain label dari kami, kue ranjang ini diberi label kuil yang memesannya. Begitu juga saat grebek sudiroprajan, labelnya ditambah label grebeg dari panitia," ungkap Tan Thiam Gie, yang mengawasi sendiri proses produksi kue keranjang usahanya.

Di bagian dapur, sejumlah pekerja wanita sibuk membersihkan cetakan kue keranjang. Sementara pekerja pria ada yang membuat adonan kue keranjang yang merupakan campuran gula pasir yang sudah dimasak dengan tepung ketan. Yang lain, menyiapkan tungku untuk mengukus kue keranjang.

Di Sudiroprajan, keluarga Tan Thiam Gie Pria merupakan satu-satunya pembuat kue keranjang. Tak jarang meskipun bukan untuk perayaan tahun baru,pemesanan kue ranjang pemesanannya mencapai 500 kue keranjang dengan berat 400 kilogram.

"Banyak atau sedikitnya order, setiap hari kami tetap mematok 5.000 kue ranjang.Takutnya malah tidak maksimal memenuhi pesanan," tutur pria kelahiran 20 Desember 1933 ini.

Jumlah pesanan meningkat sepekan terakhir, sesudah tahun baru imlek. Bahkan 16 pekerja yang ikut membantu membuat kue keranjang di rumahnya ikut kerepotan. Mereka bekerja sejak pukul 06.00-22.00 setiap harinya.

Tan Thiam Gie sendiri mengakui, kerukunan dengan para pekerja dan warga sekitar terjaga cukup lama. Seperti halnya warga di kampung lain, Balong yang menjadi kawasan pecinan di Solo juga menunjukkan kerukunan dan kegotongroyongannya. Keturunan Jawa dan Tionghoa terus hidup rukun dan saling menjaga.

Lauw Swie Moy (69), istri Tan Thiam Gie, menambahkan kue keranjang bukan sekadar bisnis keluargannya saja. Namun kue ranjang juga sebagai simbol kerukunan. Dalam proses pembuatannya, kerukunan dan kekeluargaan telah tercipta di antara mereka.

Bahan pembuat kue keranjang yang terdiri dari tepung ketan dan gula memiliki makna tersendiri. Sifat ketan yang lengket dan mudah menyatu dikatakan Lauw Swie Moy diharapkan terwujud dalam keluarga yang memakannya.

Begitupula dengan sifat gula yang manis mengandung harapan agar mereka yang menikmati kue keranjang memiliki kehidupan manis dan tidak berkesusahan.

"Dan itu tidak hanya menjadi harapan saat kami memasuki tahun baru, tapi ternyata terwujud dalam proses pembuatan kue keranjang itu sendiri," ujarnya. 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(kem)

BACA JUGA ยป