SOLO - Warga yang berdomisili di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo mengeluhkan bau menyengat yang ditimbulkan dari gunungan sampah di TPA tersebut. Bahkan, bau tersebut tercium sampai radius 3 kilometer.
Sukismiyadi, warga yang tinggalnya tak jauh dari lokasi TPA Putri Cempo, mengatakan tidak hanya dirinya yang mulai resah dengan volume sampah di TPA Putri Cempo, banyak warga setempat yang merasa tidak nyaman dengan bau menyengat yang ditimbulkan tumpukan sampah.
Pasalnya, sejak musim penghujan datang, bau sampah mulai tercium warga yang sebenarnya tinggal cukup jauh dari lokasi TPA.
“Keluhan mulai muncul semenjak turun hujan terus menerus. Sepertinya, kondisi sampah yang lembab menjadi biang keladinya. Apalagi, sejak musim hujan volume sampah juga bertambah,” papar Sukismiyadi,kepada Okezone di Solo.
Dia menambahkan, setidaknya volume sampah di Putri Cempo selama musim hujan ini meningkat sampai 20 persen dari volume di musim kemarau. Karena itu dia mendesak Pemkot, dalam hal ini Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), lebih mengoptimalkan pengelolaan sampah.
Sehingga, tambahan volume sampah tidak dibiarkan menumpuk dan menimbulkan bau yang tidak sedap. Dan berdampak bagi masyarakat sekitar. Khususnya, terkait bau sampah yang menjadi sumber polusi udara. Jika tidak dikhawatirkan hal itu akan berimbas pada kesehatan warga sekitar TPA.
“Kebetulan rumah saya masuk dalam radius 3 kilometer itu. Jadi saya merasakan sendiri seperti apa menyegatnya bau yang ditimbulkan tumpukan sampah yang belum terkelola,” ujarnya.
Selain mengeluhkan tumpukan sampah,warga juga mengeluhkan sapi-sapi yang di gembalakan dilokasi Tempat Pembuangan Akhir terbesar di Solo,dengan luas lahan 17 hektar tersebut.
Pasalnya, banyak kotoran sapi-sapi yang digembalakan di lokasi tersebut berserakan di sekitar pemukiman warga dan dibiarkan begitu saja oleh pemilik sapinya. Sehingga, menurut Sukismiyadi, kondisi tersebut bisa memicu timbulnya penyakit seperti gatal-gatal, dan Ispa.