SRAGEN - Di desa terpencil arah timur laut kota Sragen, tepatnya di Desa Ngadirejo, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, terdapat sebuah museum purbakala milik perorangan.
Museum yang terletak sekira 15 kilometer arah timur kota Sragen itu, terdapat ribuan koleksi fosil manusia maupun binatang dan benda-benda purbakala yang dikelola Darsono (54).
Pria ini dikenal sebagai juru foto pesta pernikahan oleh warga sekitar. Di rumah bercat orange yang penuh sesak oleh tumpukan tulang belulang itu, sejumlah warga dan tetangga kerap melontarkan guyonan sebagai orang “kurang waras”.
Namun siapa sangka, hobi mengoleksi berbagai tengkorak itu justru membuat nama Darsono dikenal oleh para peneliti luar negeri.
Dengan rendah hati, Darsono pun bersedia menunjukkan sejumlah koleksi benda purbakala miliknya saat Okezone mendatangi rumahnya. Dia mengaku, ribuan tengkorak dan berbagai benda fosil itu diperoleh dari sungai Bengawan Solo yang mengalir dekat rumahnya. Benda-benda itu dia kumpulkan sejak 40 tahun silam.
Dituturkan Darsono, awal dari meseum benda purbakala miliknya itu bermula dari kegemaran dirinya yang sangat hobi dan gemar mengumpulkan benda antik dan kuno sejak masih muda.
Sungai Bengawan Solo dikenal sebagai aliran sungai purbakala sejalur dengan Sangiran dan Trinil, Kabupaten Ngawi, Jatim.
Dia menceritakan, pencarian itu bermula pada tahun 1970. Setiap kali ada waktu luang, dirinya selalu pergi ke sungai untuk mencari benda-benda purbakala di sekitar sungai terpanjang di pulau jawa itu.
Dari hasil kegemarannya itu, dia menemukan beberapa koleksi berupa taring harimau purba, rahang kerbau, rahang kuda, dan tengkorak manusia purba. Tidak hanya itu gading gajah purba juga dikoleksinya.
"Kegemaran saya mengkoleksi benda purba dan membawa tengkorak ke rumah ini sempat dianggap gila oleh para tetangga," tutur Darsono.
Kendati mendapat gunjingan, Darsono tidak terlalu menggubrisnya. Malah gunjingan itu dijadikan cambuk bagi dirinya untuk terus mengumpulkan benda-benda kuno yang diperolehnya dari sungai Bengawan Solo itu.
“Seiring bertambahnya koleksi, akhirnya saya berinisiatif untuk membuat rak untuk menyimpang benda-benda tersebut," ucap Darsono.
Usaha mengkoleksi benda cagar budaya itu, mulai mendapat angin segar pada tahun 1991 saat sejumlah ahli purbakala dari berbagai belahan dunia juga pernah berkunjung ke museum pribadi miliknya.
Mereka yang sempat datang di antaranya ahli purbakala dan antropologi asal Amerika Profesor Donald Teller pada 1991. Kemudian Prof T Yacob dan Fahrul Aziz guru besar Geologi dari ITB Bandung.
“Tidak hanya itu Sukira Naraski, Kepala Museum Jepang, dan Gerdz Bander Bergh, salah satu guru besar ilmu Patologi Universitas Utrech Belanda, juga pernah datang ke sini untuk melakukan penelitian,” tutur Darsono sembari menunjukkan foto kenang-kenangan.
Kendati dikenal oleh para peneliti, Ironisnya museum fosil purbakala milik Darsono justru tidak mendapat perhatian dari Pemkab Sragen yang selama ini telah tercatat sebagai salah satu pemilik Warisan dunia atas keberadaan Museum Sangiran.
Dia berharap pemerintah bersedia membantu perawatan terhadap koleksi benda purba miliknya.
"Selama ini memang banyak peneliti dan kolektor yang ingin membeli namun saya tolak. Karena berpikir ke depan temuan saya ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan penelitian," pungkas Darsono.