SUKOHARJO - Gong terbesar berlapis emas emas 24 karat berdiameter 105 sentimeter dipesan Sentana Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran Ario (KPA) Wiwoho Basuki Tjokrohadiningrat.
Entah ada hubungannya atau tidak dengan konflik di Keraton Kasunanan Surakarta, yang jelas, gong dan perlengkapan gamelan Jawa lainnya akan ditaruh di dalam Keraton.
Selain gong terbesar yang pernah ada di Indonesia, jalannya prosesi pembuatan gong yang dilakukan di pengrajin gamelan perunggu Palu Gongso di Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah ini, menggunakan serangkaian upacara adat ala Jawa.
Sejumlah makanan seperti nasi wuduk (gurih), lingkung, buah-buahan jajan pasar dan sebagainya yang diletakkan pada meja didoakan terlebih dahulu.
Setelah semuannya telah siap, prosesi dilanjutkan dengan membakar kemenyan tepat di depan perunggu yang menjadi dasar pembuatan gong. Usai ritual, tembaga tersebut ditimbang dan selanjutnya dilebur di sebuah tungku yang cukup besar.
Uniknya, para pekerja yang membakar bahan baku gamelan pada tungku api dari arang itu, tanpa beralaskan kaki, dengan pakaian serba hitam. Usai semua perunggu yang menjadi bahan dasar pembuatan gong sudah siap, sebelum dipindahkan, Wiwoho, pemesan gong raksaksa, menjatuhkan cincin emas ke dalam adonan perunggu yang sudah cair.
“Dalam membuat gamelan ini kami melibatkan 20 tenaga. Setelah gamelan selesai ditempa, kami nanti harus nglaras (menyetel) dulu agar suara yang ditimbulkan sesuai dengan yang kami kehendaki,”jelas pengrajin Gamelan, Saroyo kepada Okezone di Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (3/6/2012).
Menurut Saroyo, pembuatan gangsa ageng dengan kembali menggunakan tradisi asli jawa, dilandasi keinginan membuat perangkat gamelan bermutu tinggi sesuai pakem gamelan Jawa.
Sedangkan waktu pembuatan seperangkat gamelan tersebut membutuhkan waktu enam bulan lebih. Karena pihaknya juga harus menunggu rancakan (rak kayu jati tempat meletakkan gamelan) selesai dibuat. "Selama ini, pembuatan gong sudah melupakan tradisi Jawa dan hanya mementingkan keuntungan semata,"paparnya.
Diakui oleh Saroyo, gong yang dibuat kali ini adalah yang paling besar ukurannya. Sebelumnya, pihaknya juga mengerjakan gong perdamaian untuk pembukaan KTT ASEAN di Bali. Namun, gong tersebut hanya berdiameter 90 senti atau tidak sampai 1 meter. "Dulu gong yang dibuat untuk pembukaan KTT ASEAN atau Gong Perdamaian di Bali itu memang besar. Tetapi itu kualitasnya tidak seperti gong ini,”ungkapnya.
Sementara itu pemesan gong raksaksa, Wiwoho ketika ditanya jumlah nominal untuk pembuatan seperangkat gamelan jangkep yang diberi nama Kyai Berkah ini, enggan membeberkan secara pasti.
“Kira-kira total dana yang kami keluarkan Rp800 juta lebih. Karena gamelan yang nanti akan saya bawa ke rumah saya di Ndalem Tjokrohadiningratan, Jogja ini menghabiskan 10 kuintal tembaga lebih, timah putih, perunggu dan 10 gram emas 24 karat. Tapi tidak menutup kemungkinan, Gong ini akan saya persembahkan untuk Keraton Kasunanan,” jelas Wiwoho sambil tersenyum.