YOGYAKARTA- Kepala Stasiun Kereta Api Lempuyangan, Rachmad Zaini, mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat melakukan pemeriksaan tiket dan identitas penumpang kereta api pada Minggu 10 Juni sore.
Peristiwa tersebut terjadi sekira pukul 16.15 WIB. Saat itu, Rachmad tengah melakukan pemeriksaan karcis terhadap penumpang yang masuk ke dalam stasiun.
Dia dipukul salah seorang penumpang, dan bogem mentah itu tepat menggenai bagian kepala bekalang. Diduga kuat, penumpang yang menghadiahi bogem mentah merupakan seorang anggota TNI.
"Setiap penumpang KA itu harus menunjukkan tiket dan identitas. Itu sudah diberlakukan sejak 1 Juni lalu, baru kemarin sore ada insiden tidak mengenakkan," jelas Rachmad Zaini saat berbincang dengan wartawan di kantor Humas Daop VI Yogyakarta, Senin (11/6/2012).
Zaini menjelaskan, penganiayaan itu terjadi karena penumpang tidak mau menunjukkan identitas diri meski penumpang tersebut sudah menunjukkan tiket kepadanya.
"Ada dua orang penumpang masuk stasiun, saya tanyakan tiket, mereka menunjukan. Tetapi saat saya tanyakan identitas, entah KTP, KTA Polri atau TNI, justru satu orang mendorong saya. Dia menatang duel dengan saya," jelas pria beristri dokter itu.
Saat keributan itu, Zaini dipukul dari arah belakang oleh penumpang. Sesaat pemukulan satu kali itu, sekira delapan orang yang sudah masuk stasiun merelai. Salah satu dari mereka mengaku komandan dari penumpang tersebut.
"Saya tidak tahu persis siapa yang memukul, kemudian saya biarkan mereka masuk tanpa menunjukan identitas. Sebab saat itu Kereta Api Progo Jurusan Yogya-Pasar Senin Jakarta sudah akan berangkat," bebernya yang mengaku pusing usai dipukul.
Sementara itu, Advisor Security Daop VI Yogyakarta, Mucharom menyayangkan insiden tersebut. Pasalnya, perintah untuk menunjukkan identitas tiket itu sudah sesuai aturan yang berlaku.
"Andaikata yang memukul kemarin sore itu anggota TNI, oknum tersebut justru mencederai TNI sendiri. Sebab, petugas PT KAI untuk meninjau tiket identitas TNI/Polri itu melaksanakan perintah Panglima TNI," jelas Mucharom.