Getting time...

OKEJOGJA » 

Kirab Raja Solo Akhiri Dualisme Raja Kembar

Bramantyo - Okezone
Minggu, 17 Juni 2012 19:22 wib
Tedjowulan saat mengikuti kirab agung (Foto: Bramantyo/okezone)
Tedjowulan saat mengikuti kirab agung (Foto: Bramantyo/okezone)

SOLO- Untuk pertama kalinya, sejak perserteruan dua keterunan Mataram, ribuan warga Solo, Jawa Tengah, akhirnya bisa kembali melihat dari dekat dua keturunan Mataram tersebut kembali berjalan beriringan.

Prosesi menandai berakhirnya ketegangan dan melahirkan Dwi Tunggal Keraton Kasunanan Surakarta, ditandai dengan kirab agung antara Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi dan Maha Menteri KGPH Panembahan Agung Tedjowulan keliling Kota Solo.

Pantauan Okezone, di lokasi kirab agung Raja Solo, yang dimulai sore tadi sekira pukul 15.00 WIB, warga Solo bisa melihat dari dekat PB XIII Hangabehi dan Maha Menteri KGPH Panembahan Agung Tedjowulan.

Warga Solo pun bisa melihat kereta kencana milik Keraton yang selama ini belum pernah dilihat dari dekat.

Namun kirab kali ini tidak diikuti oleh keturunan mataram yang tergabung di dalam Dewan Adat Keraton. Meski demikian, kirab hari ini tetap berjalan tanpa hambatan. Kirab diawali dengan defile pembawa bendera merah putih yang berjalan paling depan.

Kemudian di belakangnya, diikuti marching band milik keraton dan di belakangnya  prajurit keraton kasunanan sambil membawa panji-panji kerajaan. Tepat di belakang barisan prajurit keraton, kereta kencana pusaka yang selama ini menjadi kendaraan PB IX meluncur dengan mendapatkan pengawalan yang cukup ketat dari abdi dalam dan aparat Kepolisian.

Dari dalam kereta kencana, PB XIII Hangabehi terlihat bersama permasuri Kanjeng Ratu Pakubuwono, RAy Adipati Pradapaningsih. Kedua petinggi keraton Surakarta itu melambaikan tangan kepada warga Solo yang memadati ruas Jalan Jenderal Sudirman.

Sedangkan Maha Menteri KGPH Panembahan Agung Tedjowulan lengkap dengan pakaian Keraton berada tepat di samping kereta kencana dengan menunggai kuda hitam mengawal kereta kencana yang membawa PB XIII Hangabehi.

Di belakang barisan Raja, puluhan kesenian tradisional juga ikut merayakan prosesi kirab bersatunya Keraton Kasunanan Surakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Solo, Jawa Tengah, Widdi Srihanto, mengatakan, kirab yang dilaksanakan seusai peringatan kenaikan tahta raja itu, sekaligus pemberitahuan kepada masyarakat luas bila Keraton Solo sudah tidak terjadi lagi dualisme kepemimpinan.

"Kirab itu untuk memberitahu masyarakat bahwa adanya perselisihan di keraton yang berlangsung hampir delapan tahun itu telah berakhir dan terjadi rekonsiliasi antara KGPH Panembahan Agung Tedjowulan dengan PB XIII yang difasilitasi oleh pemerintah," jelasnya kepada wartawan di sela prosesi kirab, di Solo,Jawa Tengah, Minggu (17/6/2012).

Dia mengharapkan, dengan rujuk keluarga keraton, maka seluruh masyarakat juga bersedia membantu mengembalikan kejayaan keraton sebagai pusat budaya dan sekaligus andalan objek wisata di Solo.

Selama prosesi kirab Raja Keraton Solo itu, aparat Kepolisian tidak mengalihkan arus lalu-lintas, namun memberlakukan buka tutup jalur. 

Berita Selengkapnya Klik di Sini

(kem)

  • kusomo - 0 Tanggapan
    ngih sae2 kanggo suritulan lan ugi iso jagi tradisian leluhur ipun bengngah ketjaya kraton bkl terwjd
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
BACA JUGA ยป