DEMAK - Ratusan siswa baru di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, harus meniti jembatan bambu di tengah laut sebagai syarat kelulusan masa orientasi siswa (MOS). Para siswa SMP Kiai Gading, Desa Candisari, Kecamatan Mranggen, itu harus saling bergandengan agar tidak terpeleset dan jatuh karena jembatan tersebut hanya terdiri dari tiga batang bambu yang rapuh.
Gelombang air laut pasang yang mulai meninggi membuat ciut nyali sebagian siswa dan terpaksa berpegangan erat pada sandaran batang-batang bambu.
Mereka khawatir jembatan bambu tersebut akan roboh sewaktu-waktu karena tak mampu menahan beban ratusan siswa yang melintas secara bersamaan. Apalagi, sebagian besar batang bambu telah lapuk dan terlepas tali pengikatnya.
Sebelum meniti jembatan bambu sepanjang 500 meter itu, para pelajar itu juga harus menempuh perjalanan kaki di tanggul yang mulai rusak setelah diterjang gelombang pasang.
Semua itu dilalui untuk menuju sebuah makam keramat di Pulau Tambaksari untuk berziarah sekaligus mengikuti penutupan MOS, Kamis 19 Juli sore.
Meski berbahaya, namun para pelajar mengaku tidak mempunyai pilihan karena khawatir tidak lulus MOS. Apalagi, jembatan bambu tersebut merupakan satu-satunya jalan yang masih bisa dilalui dengan berjalan kaki.
Seorang guru SMP Kiai Gading, Fahsin Fa'al, menjelaskan, penutupan MOS digelar bersamaan dengan ziarah ke makam Mbah Mudzakir, sekaligus menyambut datangnya Ramadan. Makam tokoh penyebar Islam di Demak tersebut dipercaya tidak akan tenggelam, meski makam-makam di sekitarnya telah hilang dan berubah menjadi lautan.
Dia menegaskan, kondisi jembatan bambu masih aman untuk lintasi ratusan siswa secara bersamaan.
Kampung Tambaksari yang berada di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, itu sejak delapan tahun silam telah ditinggalkan sebagian besar penduduknya. Kerusakan alam akibat abrasi membuat kampung tersebut tenggelam dan kini kondisinya berubah menjadi hutan mangrove.