MAGELANG- Pernyataan kontroversial Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Bibit Waluyo yang menyebutkan kuda lumping (jaran kepang/jathilan) sebagai kesenian terjelek di dunia melukai perasaan para pemain yang manggung saat itu.
Pengasuh Sanggar Seni Jaran Kepang “Kartika Harapan” Kota Magelang, Agus Setiawan, menyatakan, semua pemain sempat naik darah ketika Bibit melontarkan pernyataan itu.
Namun, dia mencoba mendinginkan para pemain dan mengajak mereka introspeksi agar bermain lebih baik lagi.
”Saat Pak Gubernur bilang jaran kepang memalukan, saya hanya terdiam, mak deg, tapi tidak marah. Saya mencoba bijaksana dengan pernyataan beliau. Saya juga bilang kepada para pemain, sudah enggak apa-apa biar ini kita jadikan introspeksi. Mungkin dengan ini sanggar kita semakin terkenal dan job semakin banyak,” kata Agus kemarin.
Agus mengakui para pemain saat itu tidak bisa bermain secara maksimal. ”Order pentas juga sangat mepet, hanya satu minggu sebelum pentas,” ujarnya.
Agus mengungkapkan, peralatan pentas yang dibawanya saat itu diakui juga seadanya sebab sanggar seninya baru ada pergantian pimpinan.
Staf Dinas Pariwisata Kota Magelang Lies Prawoto mengungkapkan, dirinya yang diminta untuk mencarikan grup kuda lumping itu.
Setelah itu Lies menghubungi sanggar kuda lumping pimpinan Sapto. Pada Minggu 2 September, Sapto dan seluruh pemain datang dan memulai persiapan sejak pukul 05.00 WIB. Namun, ada miskomunikasi karena pementasan digelar pada Minggu 9 September malam. Dia kemudian mencari sanggar seni lainnya dan ketemu Sanggar Seni Jaran Kepang Kartika Harapan milik Agus Setiawan.
Hingga akhirnya muncul celaan terhadap pementasan kuda lumping itu. Bibit Waluyo menyebut kuda lumping sebagai kesenian paling jelek di dunia. Kesenian tradisional ini dinilai tidak pantas ditampilkan dalam acara-acara resmi yang dihadiri banyak pejabat. Pernyataan ini dilontarkan saat Bibit memberikan kata sambutan pembukaan The 14th Merapi and Borobudur Senior’s Amateur Golf Tournament Competing The Hamengku Buwono X Cup.