OKEJOGJA » 

Kekerasan Meningkat, DIY Akan Gelar Deklarasi Damai Antaretnis

Prabowo - Okezone
Jum'at, 22 Maret 2013 10:38 wib
Kekerasan Meningkat, DIY Akan Gelar Deklarasi Damai Antaretnis
Ilustrasi

YOGYAKARTA - Mencuatnya aksi kekerasan demi kekerasan di Daerah Istimewa Yogyakarta membuat banyak pihak resah. Terlebih tindakan itu menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Seperti yang dialami anggota Kopassus TNI AD, Sertu Santosa, misalnya. Prajurit TNI itu tewas setelah ditikam dan dikeroyok sekelompok orang saat berkunjung ke tempat hiburan malam, Hugo's Cafe, di Jalan Adisucipto Km 8,5 Maguwoharjo, Depok, Sleman pada Selasa, 19 Maret lalu.

Sehari berselang, satu lagi mantan anggota Kopassus TNI AD, Sertu Sriyono, yang menjadi korban kekerasan yang dilakukan beberapa pria saat melerai pertikaian dua kelompok di Jalan dr Soetomo. Prajurit Unit Intel Kodim 0273 Yogyakarta itu mendapat tiga luka bacok di kepala dan harus mendapat perawatan medis di RS Bethesda Yogyakarta.

Meski nyawa bapak dua putri tersebut tertolong, namun adanya kekerasan yang dilakukan oleh seseorang ataupun kelompok tertentu membuat banyak pihak gerah. Belum lagi beberapa kekerasan yang dilakukan sekelompok orang terhadap masyarakat umum maupun pelajar dan mahasiswa di beberapa tempat terpisah.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama sekaligus tokoh masyarakat, KH Abdul Muhaimin, meminta, agar seluruh elemen masyarakat yang berdomisili di Yogyakarta untuk menciptakan suasana damai. Kekerasan yang sudah terjadi tidak terulang kembali.

"Saya tidak bicara etnis atau komunitas tertentu, tetapi mari kita semua dari manapun asal-usulnya, entah dari Nusa Tengara Timur, Papua, Madura, Kalimantan, dan semua wilayah yang berdomisili di Yogyakarta untuk berbaur dengan budaya setempat," kata Muhaimin yang juga budayawan di Yogyakarta, Kamis (22/3/2013).

"Budaya yang ada di Yogyakarta tidak ada kekerasan, angkat senjata, tombak, parang, celurit, badik, dan lainnya. Budaya kita itu menjunjung kebersamaan, saling menghargai, menyelesaikan masalah dengan musyawarah, tidak seperti hukum rimba di hutan belantara sana," sentilnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat di Kotagede Yogyakarta itu berharap, kesadaran untuk meredam emosi dan egoisme dalam hidup di masyarakat lebih ditingkatkan. Harapannya, jangan ada lagi kekerasan demi kekerasan di tanah Ngayogyokarto Hadiningrat ini.

"Jangan dikira Kraton itu diam saja dengan suasana ini, Ibu Ratu (GKR Hemas) juga tidak suka kekerasan yang terjadi. Saya akan kumpulkan sekira 25 tokoh dari beragam etnis di Yogyakarta untuk mendeklarikan Gerakan Masyarakat Damai Nusantara," jelas Muhaimin.

Dia belum mau membeberkan terkait rencana tersebut, namun ujung dari deklarasi itu mengajak kepada semua etnis di Yogyakarta untuk hidup damai tanpa kekerasan. Bukan hanya pada tataran sesepuhnya saja, tetapi implentasinya kepada semua masyarakat.

"Kalau kepingin kekerasan sudah ada tempatnya sendiri, pakai sarung tangan masuk ring dan bertinju adu fisik, jangan kekerasan dilakukan di masyarakat, bisa bubar tatanan yang ada," pintanya.

Senada disampaikah Humas Polresta Yogyakarta, Iptu Haryanta. Dia mengatakan, untuk menciptakan suasana kondusif tidak bisa sepenuhnya menjadi tanggung jawab instansi Kepolisian, tetapi dari semua unsur masyarakat.

Usaha preventif sebenarnya sudah tak henti-hentinya dilakukan oleh jajarannya. Mulai melakukan patroli di beberapa titik yang rawan tindak kekerasan hingga sosialiasasi pencegahan.

"Kesadaran dari masyarakat, khususnya kelompok-kelompok tertentu itu penting untuk menciptakan suasana aman dan nyaman," paparnya. 

(ris)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BACA JUGA »