Getting time...

OKEJOGJA » 

Tak Ada Bantuan, Ribuan Korban Banjir Kelaparan

Taufik Budi - Okezone
Senin, 22 April 2013 05:31 wib
Tak Ada Bantuan, Ribuan Korban Banjir Kelaparan
Korban banjir mendirikan tenda darurat di atas tanggul (Foto: Dok Okezone)

DEMAK – Ribuan korban banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kelaparan karena belum menerima bantuan makanan. Selain itu, mereka juga terjebak di atas tanggul sungai dan bertahan dalam tenda-tenda darurat.

Sedikitnya terdapat 1.500 warga Desa Ngelokulon dan Jleper, Kecamatan Mijen, yang bertahan di atas tanggul Sungai Wulan. Mereka mendirikan tenda-tenda darurat dari terpal plastik di sepanjang tanggul.

Setiap tenda ditempati sekira 15-20 orang terdiri anak-anak dan orang tua baik pria maupun wanita. Tenda yang ditopang dengan tiang penyangga itu, tidak dilengkapi alas yang memadai untuk tidur. Hanya selembar tikar tipis yang dihamparkan untuk berbaring korban banjir.

Kondisi itu semakin parah, jika hujan deras mengguyur disertai angin kencang. Air hujan kerap masuk ke tenda, dan rembesan air juga membasahi alas. Akibatnya, banyak anak-anak dan orang tua yang menggigil kedinginan. Apalagi mereka juga tidak membawa selimut karena terendam banjir.

Anggota Komisi B DPRD Demak, Rozikhan Anwar, mengatakan, korban banjir belum menerima bantuan dari pemerintah. Sejak tanggul Sungai Wulan kembali jebol pada Sabtu, 20 April, warga hanya mendapatkan bantuan nasi bungkus dari tetangga desa.

“Hingga saat ini, warga Desa Pasir Kecamatan Mijen yang memberi bantuan makanan bagi pengungsi di atas tanggul. Sementara dari pemrintah belum ada. Baru pada Minggu sore, BPBD Demak mendirikan dapur umum di Desa Pecuk. Itu pun langsung habis makanan yang dimasak di sana, karena korban banjir di desa itu juga banyak,” ujar Rozikhan kepada Okezone, Senin (22/4/2013) dini hari.

Rozikhan menambahkan, para pengungsi di atas tanggul sungai hanya dapat menunggu bantuan makanan karena tidak dapat memasak. Pasalnya, peralatan masak dan kompor hanyut terbawa banjir. Sementara mereka tidak dapat menjangkau lokasi dapur umum karena terhalang banjir setinggi dua meter.

“Mereka hanya dapat menunggu bantuan makanan dan obat-obatan. Kalau kondisi seperti itu dibiarkan berlarut-larut pasti pada jatuh sakit. Banyak anak-anak dan orang tua jompo yang ikut ngungsi, mereka itu kan tidak bisa kalau terus-menerus menahan lapar,” tukasnya.

Selain di atas tanggul sungai, sekira 7.000 warga yang mengungsi tersebar beberapa titik lokasi pengungsian lain seperti MI Al Islam, Posko Jleper, hingga rumah toko di Kabupaten Jepara.

“Ada tujuh titik lokasi pengungsian, rata-rata warga membuat tenda sendiri untuk berteduh dan tidur. Di antara tempat pengusian itu yang paling parah adalah yang di atas tanggul, karena tidak mudah untuk menjangkau ke sana,” tutupnya.
 

(tbn)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BACA JUGA »